Boys Over Flowers (Last Part)

Sambil membopong Chan, bocah yang tengah diasuh Jan-di, Jun-pyo sempat berseloroh kalau dirinya seolah tengah berada dalam mimpi. Sayang, kebersamaan Jun-pyo dan Jan-di harus terputus oleh suara telepon Tuan Jung, yang meminta sang majikan untuk segera pulang.

Setelah sibuk menyelidik, Ga-eul akhirnya bisa memecahkan teka-teki seputar Yi-jung dan Eun-jae. Ia berhasil mengajak Yi-jung ke puncak sebuah gedung sambil menunjuk ke arah sebuah papan iklan. Sempat bingung, Yi-jung tercengang begitu melihat pesan yang tersembunyi di papan tersebut, yang ternyata merupakan karya Eun-jae. Sama sekali tidak menduga, Yi-jung langsung menangis meraung-raung sementara Ga-eul hanya menatapnya dengan kasihan.

Di tempat lain, Ji-hoo dan Kakek Yoon juga telah berbaikan. Setelah sama-sama menceritakan apa yang selama ini terpendam, Kakek Yoon mengatakan kalau dirinya bisa meninggal dengan tenang dan bakal mewariskan semua miliknya pada sang cucu. Ji-hoo sempat protes, namun ucapannya terhenti oleh kemunculan Jan-di, yang mengabarkan kalau makan malam telah siap.

Di studio, Ga-eul langsung disambut oleh Yi-jung. Pembicaraan keduanya semakin menjurus serius, namun saat nyaris berciuman, ponsel Ga-eul mendadak berbunyi. Di saat yang sama, penyakit Kakek Yoon kambuh begitu menerima kabar yang kurang menyenangkan dari ponselnya. Jan-di yang panik langsung berusaha menolong, sementara Ji-hoo hanya terpaku.

Di kediaman keluarga Goo, Nyonya Kang rupanya sudah tahu mengenai kencan Jun-pyo dan Jan-di di kebun binatang yang secara tidak sengaja terliput oleh berita televisi. Wanita berdarah dingin itu langsung punya ide cemerlang untuk membuat Jan-di tidak berkutik, namun ide tersebut, yang konon terlalu kejam, ditentang oleh Tuan Jung.

Begitu tiba, Jun-pyo langsung minta maaf pada sang ibu karena telah mengacaukan pesta pernikahan dan berjanji bakal memperbaiki semuanya termasuk hubungan dengan perusahaan JK. Syaratnya hanya satu : Nyonya Kang tidak boleh menyakiti Jan-di sedikitpun. Di luar dugaan, Nyonya Kang langsung mengiyakan.

Serangan pertama Nyonya Kang ditujukan pada orang terdekat Jan-di : Ga-eul, yang ayahnya dipaksa pensiun secara mendadak. Setelah Ga-eul, sasaran berikutnya adalah studio seni Ji-hoo yang bakal dipaksa tutup. Keruan saja, rentetan kejadian tersebut membuat Jan-di merasa bersalah dan bertekad untuk memperbaiki semuanya. Hal pertama yang dilakukannya adalah datang ke pria koma yang kerap ditungguinya, sambil mengatakan kalau dirinya kemungkinan besar tidak akan muncul lagi disana.

Jan-di menemui Jun-pyo dan mengajaknya piknik. Cukup kaget melihat Jan-di tanpa ragu-ragu memanggilnya dengan keras di kediaman keluarga Goo, Jun-pyo langsung menurut ketika diajak pergi ke pinggir pantai. Yang paling mengejutkan, Jan-di pula yang berinisiatif menarik Jun-pyo dan menciumnya dengan mesra.

Rupanya, itulah perpisahan bagi Jun-pyo. Sebelum pergi, Jan-di sudah lebih dulu menghadap Nyonya Kang dan menyebut siap untuk meninggalkan semuanya termasuk Jun-pyo supaya tidak ada lagi orang yang disakiti oleh wanita itu. Bisa dibayangkan, bagaimana kagetnya Jun-pyo karena saat pulang, Jan-di minta diturunkan ditengah jalan sambil mengatakan kalau keduanya tidak akan pernah bertemu lagi.

Sebelum naik ke atas bis, Jan-di menyebut bahwa meskipun dipaksa, ia tidak akan pernah melupakan status Jun-pyo sebagai pewaris Shinhwa (hal yang membuat hubungan keduanya tidak mungkin dilanjutkan). Jun-pyo langsung terdiam, sementara di dalam bis, Jan-di akhirnya tidak bisa menahan air mata dan menangis sejadi-jadinya.

Keesokan harinya, Jan-di mendatangi desa nelayan dimana keluarganya bermukim. Melihat sang ibu yang terlihat begitu lelah, gadis itu tidak tega untuk menceritakan apa yang terjadi. Kepergian Jan-di ternyata mengubah kehidupan F4 khususnya Jun-pyo, yang menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukan, dan Ji-hoo, yang menyibukkan diri dengan mengurus klinik peninggalan Kakek Yoon.

Semakin kuatir melihat kondisi Jun-pyo, Jun-hee dikejutkan oleh pemberitahuan mendadak Tuan Jung : ayahnya, yang ternyata adalah pria koma yang kerap ditemani Jan-di, ternyata masih hidup. Keruan saja, Jun-hee menangis sejadi-jadinya dan langsung mengkonfrontir sang ibu.

Sempat kaget, dengan cepat Nyonya Kang bersikap tenang dan menyebut bahwa apa yang dilakukannya sesuai dengan apa yang diinginkan sang suami. Pembicaraan tersebut didengar oleh Jun-pyo, yang langsung buru-buru bergerak ke tempat dimana ayahnya terbaring. Dengan cepat, kilas masa lalu dimana ia pernah berjanji pada sang ayah untuk menjalankan Shinhwa dan bagaimana sang ibu memanipulasi dirinya terbayang. Dengan penuh amarah, Jun-pyo memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi.

Ketika tengah membayangkan Jan-di, secara tidak sengaja Ji-hoo melihat penampakan gadis itu di sebuah berita televisi. Bersama Yi-jung dan Woo-bin, Ji-hoo berusaha memberitahu informasi tersebut pada Jun-pyo. Langsung ditolak mentah-mentah, Ji-hoo menuliskan lokasi keberadaan Jan-di di selembar kertas dan meletakkannya begitu saja didekat Jun-pyo.

Di desa nelayan, kedua orangtua Jan-di dikerubuti para tetangga. Rupanya, para tetangga meminjami uang setelah diceritakan kalau Jan-di adalah calon pendamping pewaris Shinhwa dan begitu tahu kalau pendamping sebenarnya adalah Jae-kyung, mereka mengira telah ditipu. Sekonyong-konyong, muncul Ji-hoo yang menyebut siap menebus seluruh hutang-hutang keluarga Geum. Sempat diprotes, Ji-hoo menyebut bahwa Jan-di telah memberikannya lebih dari sekedar uang.

Ji-hoo melepas kalung cincin yang dikenakan dan memberikannya pada Jan-di sambil menyebut kalau benda itu sangat berharga. Tidak ingin berbohong, Jan-di menolak sambil mengatakan bahwa dirinya masih belum bisa melupakan Jun-pyo. Sadar betapa besar kesedihan yang dirasakan gadis itu, Ji-hoo menarik Jan-di dengan lembut kemudian memeluknya. Keduanya tidak sadar kalau adegan tersebut dilihat oleh Jun-pyo dari kejauhan.

Saat malam tiba, Ji-hoo yang dikira sebagai pewaris Shinhwa nyaris ditabrak oleh seorang mantan pegawai perusahaan raksasa tersebut. Untungnya ada Jun-pyo, yang dengan cepat mendorong tubuh sahabatnya namun malah jadi korban. Di rumah sakit, Jun-hee yang terpukul langsung memarahi sang ibu sambil berderai air mata. Sikap dingin Nyonya Kang berlanjut begitu dokter mengabari kalau Jun-pyo telah melalui operasi dengan sukses, wanita itu beralasan ada rapat yang harus dihadiri.

Nyonya Kang ternyata tidak sedingin yang dikira. Melihat wanita yang telah membuat keluarganya menderita, Jan-di malah duduk di dekat Nyonya Kang sambil berusaha menghibur ibu Jun-pyo itu dengan caranya yang unik. Ucapan Jan-di ternyata mampu membekas di diri Nyonya Kang, yang langsung memerintahkan pengawalnya Tuan Jung untuk membuatkan makanan kesukaan putranya. Tidak cuma itu, Nyonya Kang juga sempat menitikkan air mata.

Di rumah sakit, Jan-di terus menunggui Jun-pyo sambil menangis. Seolah mengulang masa lalu, ketika Jun-pyo pura-pura sekarat, Jan-di kembali mengulangi ucapan tentang apa yang dirasakan sebenarnya pada pria itu. Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa Jan-di telah kembali ke Seoul bersama keluarganya dan telah kembali bersekolah. Suatu hari, F3 menyampaikan kabar gembira : Jun-pyo akhirnya siuman.

Kembali menjadi Jun-pyo yang arogan, ada satu hal penting yang berbeda : Jun-pyo tidak mengenali Jan-di sama sekali. Meski terpukul, Jan-di berusaha menyembunyikan kesedihannya dan berusaha tetap ceria di depan Jun-pyo yang menatapnya dengan pandangan aneh. Parahnya lagi, Jun-pyo malah mengira Jan-di adalah kekasih Ji-hoo.

Mulai prihatin dengan apa yang menimpa Jun-pyo, F3 mulai mencari cara untuk memulihkan ingatan pemimpin mereka. Berusaha mereka ulang adegan yang ‘berkesan’ antara Jun-pyo dan Jan-di, termasuk ketika Jun-pyo ditendang dengan tendangan memutar, ingatan pemuda itu nyatanya tidak juga kembali. Yang terjadi malah sebaliknya, Jun-pyo dengan marah mengusir Jan-di.

Jun-pyo terus mengacuhkan Jan-di dan malah semakin dekat dengan Jang Yumi, seorang pasien yang mengalami kecelakaan hingga kakinya patah. Di suatu malam, Yumi menyelinap masuk ke kamar Jun-pyo untuk mengajaknya menikmati pizza di udara terbuka. Ketika melihat bintang, Jun-pyo merasa telah melupakan sesuatu yang begitu penting. Tahu kalau Jun-pyo mulai frustrasi, Yumi berusaha menghibur.

Tak berapa lama, F3 dan Jan-di tiba. Ucapan Jun-pyo yang ceplas-ceplos tentang Jan-di, yang lagi-lagi mengira kalau gadis itu adalah kekasih Ji-hoo, membuat Ji-hoo naik pitam dan nyaris saja memukul Jun-pyo kalau saja Yi-jung dan Woo-bin tidak melerai. Aksi tersebut disambut oleh tatapan aneh Jun-pyo, yang tidak habis pikir dengan tindakan Ji-hoo.

Paginya, Yumi kembali muncul di kamar Jun-pyo, yang tengah mencicipi kotak makanan peninggalan Jan-di. Mulai teringat sesuatu, Jun-pyo mengira kalau makanan dalam kotak tersebut adalah buatan Yumi. Sempat terlihat ragu, Yumi langusng mengiyakan.

Ketika Jan-di tengah melamun bersama Ga-eul sambil menyaksikan Yi-jung dan Woo-bin makan siang, keduanya menyampaikan kabar gembira : Jun-pyo telah keluar dari rumah sakit. Dengan terburu-buru, Jan-di langsung bergegas pergi. Yi-jung yang memutuskan menyusul belakangan meminta waktu untuk bicara dengan Ga-eul.

Sudah paham betul dengan kebiasaan Ga-eul, Yi-jung menyampaikan kabar buruk lebih dulu : dirinya bakal pergi ke luar negeri selama empat tahun. Sempat berusaha optimis dan mendukung rencana Yi-jung untuk menjadi seniman yang lebih baik, Ga-eul langsung tersipu-sipu begitu pemuda itu menyebut bahwa saat kembali ke Korea, orang pertama yang bakal dicarinya adalah Ga-eul.

Begitu sampai di kamar, ekspresi Jan-di berubah melihat Yumi ada disana. Setelah beberapa kali mendapat perkataan kasar dari Jun-pyo, Jan-di tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi. Mampu menebak kalau Jan-di adalah bagian dari ingatan Jun-pyo yang hilang, Yumi menyusul dan meminta gadis itu untuk tidak muncul sementara waktu dengan alasan kuatir kondisi Jun-pyo memburuk.

Berjanji bakal membantu Jun-pyo kembali mengingat Jan-di secara perlahan-lahan, Yumi kembali ke kamar pria itu. Diam-diam Jan-di mengikuti Yumi, dan sangat terkejut saat tahu kalau gadis itu telah mengakui kalau kotak makanan yang ditinggalkan untuk Jun-pyo sebagai buatannya.

Terpukul melihat apa yang terjadi, Jan-di bertabrakan dengan Ji-hoo yang baru datang. Dengan suara prihatin, Ji-hoo meminta gadis itu supaya tidak menyerah begitu saja. Namun, Jan-di yang sudah tidak berdaya lagi menyebut bahwa Jun-pyo yang sekarang sudah tidak lagi dikenalnya dan hubungannya dengan pemuda itu sudah berakhir.

Keesokan harinya, Jun-pyo mencicipi makanan dalam kotak buatan Yumi. Mulai curiga kalau Yumi berbohong, Jun-pyo langsung teringat akan ekspresi terakhir Jan-di. Namun begitu Yumi protes sambil menangis, Jun-pyo yang merasa bersalah memutuskan untuk memberi kejutan romantis pada gadis itu : sebuah pesta kolam.

Ikut hadir di pesta tersebut, Jan-di memutuskan untuk menyingkir. Siapa sangka, Yumi malah mendatanginya untuk memberitahu bahwa Jun-pyo sudah tidak lagi ingat akan Jan-di, dan dirinya sudah jatuh hati pada pria itu. Di hadapan hadirin, Yumi mengumumkan bakal studi ke luar negeri bersama Jun-pyo selama sebulan penuh. Kabar tersebut tidak hanya mengejutkan Jan-di, tapi juga F3 yang langsung menatap marah ke arah Yumi.

Begitu berpapasan dengan Jun-pyo, Jan-di langsung mengembalikan kalung yang pernah diberikan sang pewaris Shinhwa. Begitu ditolak, Jan-di dengan kesal melempar kalung tersebut ke dalam kolam. Sambil berdiri di tepi kolam, Jan-di melancarkan usaha terakhirnya untuk mengembalikan ingatan Jun-pyo. Ketika pemuda itu tidak juga merespon, Jan-di nekat menjatuhkan dirinya ke dalam kolam setelah sebelumnya mengatakan beberapa hal yang merupakan karakter Jun-pyo.

Sempat terdiam sejenak, ingatan Jun-pyo mendadak kembali bagaikan air bah. Dengan panik sambil meneriakkan nama Jan-di, Jun-pyo langsung menyelam untuk menyelamatkan gadis yang sangat dicintainya itu. Setelah memberi pernapasan buatan, Jun-pyo langsung memeluk Jan-di dengan erat sambil meminta maaf.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, waktu kelulusan Jan-di hanya tinggal menghitung hari. Saat tengah berdua, tiba-tiba Jun-pyo mendekati Jan-di untuk mengajak kencan. Dasar apes, kejadian dulu kembali terulang : sebuah motor lewat sehingga suara Jun-pyo tentang dimana keduanya harus bertemu tidak terdengar.

Tidak berniat menghadiri pesta kelulusan, Jan-di hadir di lokasi dengan pakaian seragam setelah dijemput ‘paksa’ oleh limusin. Saat berdansa secara bergantian dengan F3, dalam hatinya Jan-di mulai membatin soal karakter masing-masing yang begitu unik dan meski kadang terlihat sombong namun ternyata menyimpan kehangatan dan cinta.

Satu-satunya yang absen adalah Jun-pyo, dan Jan-di baru sadar apa yang terjadi : pemuda itu telah menunggunya di sebuah tempat. Teringat akan kejadian serupa, Jan-di langsung menyusul ke tempat dimana pertama kali keduanya berkencan. Tebakannya sangat tepat, Jun-pyo telah menunggu disana. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia tidak marah dengan keterlambatan Jan-di.

Dibimbing naik ke atas kereta gantung, wajah Jun-pyo mendadak berubah serius saat meminta supaya Jan-di mau menikah secepatnya mengingat dirinya harus terbang ke Amerika dan tinggal disana selama empat tahun. Namun, Jan-di yang sudah menyimpan cita-cita sendiri supaya dirinya tidak selalu bergantung pada Jun-pyo menolak dengan halus sambil menyebut bahwa bila dalam waktu empat tahun pemuda itu kembali ke Korea, Jan-di akan mempertimbangkan tawaran itu dengan serius.

Sempat terdiam beberapa saat, Jun-pyo sambil bercanda menyebut bahwa Jan-di bakal menyesal bila kehilangan dirinya. Begitu hal serupa dikatakan Jan-di, Jun-pyo dengan berani langsung mengiyakan. Ucapan itu membuat Jan-di terharu, ia langsung menarik Jun-pyo dan menciumnya.

Empat tahun berlalu, Jun-pyo telah berubah menjadi seorang eksekutif muda. Saat diwawancara, pewaris Shinhwa itu mengaku berkat janjinya pada seseorang-lah ia bisa sukses menghadapi semua rintangan. Nyonya Kang, yang menyaksikan wawancara sang putra, tersenyum bangga. Posisi sebagai pimpinan Shinhwa dipegang oleh Jun-hee.

Di tempat lain, Ga-eul yang telah menjadi guru TK dikejutkan oleh kedatangan Yi-jung. Kehadiran pria itu membuat seorang anak perempuan bertanya tentang darimana pria itu datang, yang langsung buru-buru dipotong Ga-eul yang tersipu malu.

Bagaimana dengan Jan-di? Sesuai dengan cita-citanya, gadis itu akhirnya meneruskan kuliah di jurusan kedokteran…bersama Ji-hoo. Saat tengah berbincang-bincang, tiba-tiba muncul helikopter dan sebuah suara yang sudah tidak asing lagi meminta Jan-di untuk segera menemui si pemilik helikopter di pinggir pantai.

Langsung menyusul, Jan-di sedikit terkejut melihat Jun-pyo telah menunggu. Sempat mencela dandanan Jan-di, Jun-pyo langsung menarik gadis itu dan memeluknya. Langsung mengingatkan soal janji yang pernah diucapkan, Jun-pyo langsung berlutut sambil menyodorkan kotak berisi cincin yang indah.

Dengan wajah serius, Jun-pyo melamar Jan-di. Belum sempat dijawab, suasana romantis tersebut pecah oleh tiga suara yang menyatakan keberatan : Ji-hoo, Yi-jung, dan Woo-bin. Rupanya selain mendapat jawaban YA dari Jan-di, Jun-pyo juga harus meminta restu ketiga rekannya.

__THE END__

 

Published in: on June 8, 2011 at 4:30 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://excitingstories97.wordpress.com/2011/06/08/boys-over-flowers-last-part/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: