Boys Over Flowers Episode 4

Jun-pyo yang merangsek masuk langsung disergap oleh anak buah Jae-ha, yang langsung memerintahkan supaya pria itu dihajar. Namun meski memuntahkan darah, Jun-pyo bergeming dan menolak ketika diminta supaya melepaskan Jan-di.

Jan-di semakin tidak tega melihat Jun-pyo yang tidak berdaya, dan dengan cepat menggunakan tubuhnya untuk menangkis kursi yang hendak dipukulkan Jae-ha. Akibatnya, gadis itu langusng jatuh pingsan. Untungnya tak lama kemudian muncul Ji-hoo, Yi-jung, dan Woo-bin. Tanpa kesulitan, ketiganya mampu menguasai keadaan dan meringkus Jae-ha.

Saat tersadar, Jan-di telah terbaring di rumah sakit dengan Jun-pyo, yang duduk di kursi roda, disampingnya. Bukannya berusaha menghibur, Jun-pyo malah memarahi Jan-di yang nekat menggunakan tubuhnya untuk melindungi pria itu. Keruan saja, Jan-di tidak terima dan keduanya kembali adu mulut.

Keadaan dirumah Jan-di tidak kalah genting, sang ayah diseret oleh para penagih hutang dan diancam bakal diambil salah satu organ tubuhnya kalau tidak bisa melunasi. Dalam keadaan putus asa, ibu Jan-di mendatangi Nyonya Kang dan sambil berlutut, memohon supaya presiden grup Shinhwa itu mau menolong keluarganya.

Melihat wanita itu mempermalukan dirinya, Nyonya Kang tersenyum puas dan langsung menolong ayah Jan-di dengan melunasi hutang-hutangnya. Ketika Jan-di pulang kerumah, kedua orangtuanya langsung menjelaskan apa yang terjadi serta imbasnya terhadap hubungan sang putri dengan Jun-pyo.

Berdasarkan keputusan bersama, Jan-di mendatangi Nyonya Kang untuk mengembalikan hutang keluarganya. Seperti yang bisa ditebak, perang antara keduanya dimulai yang diakhiri dengan penolakan Jan-di untuk berpisah dengan Jun-pyo.

Tidak tahu apa yang terjadi, Jun-pyo bersama F4 mengajak Jan-di dan Ga-eul berlibur di tempat ski. Sempat ragu-ragu akibat ucapan Woo-bin, Jun-pyo akhirnya memberanikan diri untuk memberikan hadiah berupa kalung bermotif unik kepada Jan-di.

Hadiah kalung dari Jun-pyo kontan membuat trio siswi populer Shinhwa Jin-Sun-Mi iri, ketiganya diam-diam merebut kalung tersebut. Kontan saja, Jan-di langsung kelabakan dan akhirnya mengaku kepada Jun-pyo. Sempat jengkel, Jun-pyo melampiaskan kekesalannya pada boneka salju sebelum akhirnya masuk kembali ke kabin.

Mengira kalau yang didengarnya adalah langkah kaki Jan-di, wajah Jun-pyo langsung sumrigah dan sudah bersiap untuk memarahinya lagi. Siapa sangka, yang muncul ternyata adalah anak buah Nyonya Kang. Meski sempat melawan, Jun-pyo akhirnya mengikuti mereka.

Saat mencari kalungnya yang hilang, Jan-di dikerjai oleh trio penggemar F4 Jin-Sun-Mi tanpa sadar kalau dirinya dijebak. Keruan saja, ia tidak bisa lolos saat badai salju datang. Tanpa sengaja, Ji-hoo mendengar tentang Jan-di, dan langsung menghubungi Jun-pyo.

Cukup cerdik meski sebagai tawanan, Jun-pyo akhirnya lolos dan langsung mencari Jan-di ditengah badai salju yang semakin lebat. Ia akhirnya menemukan Jan-di terbaring lemah, dan tanpa berpikir panjang langsung membopong gadis itu ke sebuah kabin. Melihat kekasihnya menggigil kedinginan, Jun-pyo melepas mantelnya dan memberikannya pada Jan-di.

Tersentuh oleh kebaikan hati Jun-pyo, Jan-di berjanji bakal mengabulkan apapun permintaan pria itu. Dengan tersenyum tipis, Jun-pyo meminta dibuatkan bekal, yang langsung diangguki Jan-di. Ditengah suasana yang begitu romantis, keduanya berciuman dengan mesra.

Keesokan harinya setelah badai reda, Jun-pyo dan Jan-di kembali ke tempat dimana rekan-rekan F4nya dan Ga-eul berada. Ji-hoo yang berhasil menemukan kalung Jan-di langsung mengembalikannya ke gadis itu, yang kemudian disibukkan oleh kegiatan baru : membuat bekal untuk Jun-pyo (dengan motif unik).

Telah menunggu cukup lama, Jan-di tidak sadar kalau Jun-pyo harus segera terbang ke luar negeri karena sang ayah mendadak jatuh pingsan saat berada di China. Tahu kalau Jan-di akan terus menunggu, Jun-pyo meminta Ji-hoo untuk menjemput gadis itu. Muncul dengan sepeda motor, Ji-hoo meminta Jan-di untuk bergegas karena pesawat Jun-pyo bakal berangkat.

Sayang kedatangan mereka terlambat, pesawat grup Shinhwa telah terbang dan Jan-di hanya bisa menatap dengan cucuran air mata. Dari atas pesawat, Jun-pyo mengirim pesan singkat yang isinya meminta Jan-di untuk menunggu kepulangannya…dan mengungkapkan perasaan terdalamnya pada sang kekasih.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Jan-di telah memasuki tahun terakhir sekolah sementara tiga rekannya di F4 tengah menikmati hari-hari mereka di universitas. Praktis, hubungannya dengan Jun-pyo terputus sejak pria itu terbang ke Makau.

Meski berusaha untuk mengenyahkan pikiran buruk, ekspresi Jan-di langsung berubah sendu setiap kali mendengar nama Jun-pyo disebut. Untungnya dibalik kesedihan, kehidupan keluarga Jan-di yang sempat morat-marit mulai membaik setelah ayahnya diterima kerja di perusahaan baru.

Bertemu Ji-hoo di kolam renang, Jan-di dipaksa untuk memeriksakan bahunya yang cedera ke rumah sakit. Sempat melihat Ji-hoo bersama seorang pria tua yang kerap datang ke restoran tempatnya bekerja, Jan-di diberitahu bahwa meski cederanya bakal sembuh, namun ia sudah tidak bisa lagi mengejar karir di dunia renang.

Berita tersebut kontan membuat Jan-di tambah terpukul. Di pinggir kolam, ia menumpahkan isi hatinya pada Ji-hoo sambil berderai air mata. Dengan lembut, pria itu berusaha menghibur Jan-di. Meski berat, Jan-di akhirnya mulai mengemasi perlengkapan renangnya termasuk kacamata pemberian Jun-pyo.

Tidak sengaja melihat sebuah serial televisi, Jan-di memutuskan untuk mengejar Jun-pyo hingga ke Makau. Sempat berusaha meminta supaya gajinya dibayar dimuka untuk tiket pesawat namun gagal, Jan-di berusaha untuk mendapat nominal yang diinginkan dengan menjual bubur.

Beruntung bagi Jan-di, tempat jualannya yang semula sepi langsung berubah ramai berkat kemunculan F4 minus Jun-pyo. Setelah berhasil mendapat uang tiket pesawat, Jan-di diminta untuk melakukan renang terakhirnya sambil disaksikan tiga rekan-rekannya di F4 dan Ga-eul sebelum kemudian berangkat ke Makau.

Begitu tiba di Makau, Jan-di langsung menuju hotel dimana Jun-pyo menginap. Sayang, usahanya untuk menemui pria itu (dengan berbagai gerak tangan yang kocak dan bahasa Inggris campur Korea yang terpatah-patah) dihalang-halangi oleh petugas keamanan.

Sambil memikirkan langkah berikutnya, Jan-di memutuskan untuk melihat-lihat keramaian. Ia nyaris saja tidak menyangka kalau seorang pencopet mengincar dompetnya, namun ia diselamatkan oleh seorang gadis cantik bernama Ha Jae-kyung.

Sempat menghabiskan waktu bersama, keduanya akhirnya berpisah. Melihat kesempatan yang ada, Jan-di berhasil menyelinap masuk ke dalam hotel dengan berpura-pura menjadi bagian dari rombongan turis. Terus menjelajahi satu-persatu ruangan yang ada, gadis itu akhirnya tiba di bar hotel.

Didalam ruangan mewah itulah Jan-di akhirnya bertatapan muka dengan Jun-pyo, namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Tidak cuma melihat Jun-pyo yang begitu bahagia saat bersanding bersama wanita lain, namun ekspresi wajah pria itu berubah dingin saat tatapan keduanya bertemu.

Kebingungan karena reaksi Jun-pyo diluar harapannya, Jan-di memutuskan untuk mengikuti seorang bocah yang menawarkan penginapan murah. Siapa sangka, gadis itu malah digiring ke tempat sepi dimana sekelompok berandal telah menanti. Dalam keadaan terdesak, mendadak muncul Ji-hoo, Yi-jung, dan Woo-bin sebagai penyelamat.

Setelah membereskan para berandalan, yang ekstra ketakutan melihat sosok Woo-bin, Jan-di dan rekan-rekan F4nya memutuskan untuk menginap di hotel sambil menghubungi Jun-pyo. Penolakan yang dilakukan sang pemimpin membuat ketiga rekannya mulai yakin ada sesuatu yang salah.

Ketika ditanya soal Jun-pyo, Jan-di berusaha mengelak namun ucapannya semakin menguatkan kecurigaan Ji-hoo. Disaat ketiga personil F4 dan Jan-di menikmati keindahakn malam di Makau, Jun-pyo sibuk menyelesaikan urusan bisnisnya bak seorang pengusaha ulung.

Dipercaya sebagai salah satu petinggi perusahaan Shinhwa yang baru, Jun-pyo menemani Nyonya Kang untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan mitra mereka JK Group. Pembicaraan berlangsung serius, Nyonya Kang langsung tersenyum saat putranya dipuji.

Di saat yang sama, F3 menuntun Jan-di untuk makan di restoran favorit mereka yang kebetulan juga merupakan tempat Jun-pyo dan Nyonya Kang berada. Begitu melihat Jun-pyo, Ji-hoo langsung membalikkan badan dan menyatakan niatnya untuk makan di tempat lain (sambil memberi isyarat pada Yi-jung dan Woo-bin.

Sempat kaget melihat kemunculan Ji-hoo yang tiba-tiba keluar lagi, ekspresi wajah Jun-pyo berubah saat menerima pesan gambar di ponselnya. Rupanya, seseorang mengirimkan foto kebersamaan Jan-di dan Ji-hoo di sebuah gondola.

Setelah acara selesai, Jun-pyo diajak asistennya Jung sang-rok untuk menemui rekan-rekan F3-nya namun pemuda itu menolak. Mau tidak mau, Tuan Jung bersiasat dengan Yi-jung dengan alasan pertemuan bisnis untuk ‘memaksa’ Jun-pyo. Begitu melihat tiga rekannya, wajah Jun-pyo tetap datar.

Begitu nama Jan-di disebut, Jun-pyo malah memberi respon yang bernada merendahkan gadis itu. Keruan saja Yi-jung marah, pemuda itu sempat meninju wajah Jun-pyo sebelum dua rekannya yang lain memisahkan. Ketika ditanya apa yang membuatnya berubah, dengan wajah serius Jun-pyo menjawab : 700 ribu pegawai yang bekerja di perusahaan Shinhwa.

Begitu F3 muncul, Jan-di langsung bisa menebak kalau Jun-pyo tidak mau menemuinya. Namun tekad gadis itu begitu kuat, ia berniat untuk mendengar sendiri dari mulut pria yang dicintainya tersebut. Tahu betapa besarnya harapan Jan-di, Ji-hoo menemui Jun-pyo dan meminta sang sahabat untuk bertemu dengan Jan-di walau hanya sebentar.

Saat fajar tiba, Ji-hoo sengaja mengajak Jan-di jalan-jalan keluar hotel dengan maksud menggiring gadis itu untuk menemui Jun-pyo. Namun, bisa dibayangkan betapa kecewanya Jan-di saat tahu Jun-pyo yang dicintainya telah berubah menjadi dingin.

Meski terluka, Jan-di berusaha menunjukkan wajah setenang mungkin saat keduanya berpamitan. Namun begitu memutuskan untuk naik gondola untuk menghabiskan waktunya, Jan-di tidak bisa lagi menahan air mata.

Begitu kembali kekamarnya, Jun-pyo tidak bisa lagi menahan emosi. Rupanya, apa yang dipertontonkan didepan Jan-di hanya kamuflase belaka. Begitu mendengar Nyonya Kang mengancam, Jun-pyo mengatakan dirinya bersumpah bakal meninggalkan semuanya bila Jan-di disakiti.

Ketika sedang berjalan-jalan, secara tidak sengaja Jun-pyo melihat Jan-di tengah mengagumi sepasang sepatu. Ia langsung berniat membeli sepatu tersebut, namun secara kebetulan benda tersebut juga diminati Jae-kyung. Bisa ditebak, keduanya langsung berebut untuk mendapatkan sepatu tersebut.

Tapi begitu sampai dirumah, yang dilakukan Jun-pyo hanyalah melihat layar komputernya dimana foto-foto Jan-di bertebaran. Ingatannya langsung melayang ke masa lalu saat masih kecil dan bersama sang ayah, dan dilema antara memilih Jan-di atau perusahaan membuat Jun-pyo semakin tertekan.

Keesokan harinya saat berniat pulang, Jan-di dan Ji-hoo bertemu dengan Ming, sahabat Ji-hoo. Sempat kecewa saat tahu keduanya hendak kembali ke Korea, Ming berhasil membujuk mereka untuk tinggal lebih lama. Diam-diam, Ming memperhatikan betapa besar perhatian Ji-hoo pada Jan-di.

Memutuskan untuk menyusul, Jun-pyo harus kecewa karena Jan-di sudah tidak ada dikamarnya dan mengira gadis itu sudah kembali ke Korea. Sayang ketika diberitahu akan keberadaan Jan-di oleh asistennya Tuan Jung, Jun-pyo menolak untuk menyusul.

 

Published in: on June 8, 2011 at 3:17 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://excitingstories97.wordpress.com/2011/06/08/boys-over-flowers-episode-4/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: